Demo beberapa waktu lalu ini adalah sebuah wujud kekesalan kita sebagai rakyat terhadap pemerintah yang korup dan busuk. Tapi gw gk bisa bohong, semua ini adalah salah kita sendiri. blak blakan aja deh, yang korupsi gk cuman pejabat aja, tapi rakyatnya sendiri juga korup. Kita bisa lihat dari banyaknya pungli sama jukir liar.
Dan disinilah kuncinya. Kalo kita mau berantas korupsi di Indonesia, kita harus padamkan sumber apinya dulu sebelum jadi besar. Kita harus berani speak up buat ngelawan preman preman kecil ini. Masalahnya masyarakat kita masih gk terorganisir, belom lagi masalah buzzer yang nyusupin opini publik dan ngasih misinformasi.
Kita mulai dari sebarin platform alternatif kayak Odysee sama Lemmy ini buat tukar pikiran sesama rakyat. Dari platform terbuka dan bebas dari cengkraman big tech ini kita bisa mulai revolusi secara efektif, aman dan privasi. Tinggal masyarakatnya apakah beneran niat buat berubah. Kalo rakyat emang serius, mereka harus tinggalin aplikasi kayak whatsapp, ig, facebook sama tiktok yang menindas suara kita.
Menurut gw inilah solusi terbaik buat kita. Biar gk ada lagi darah sodara kita yang tumpah ditangan polisi yang menjaga tuan palsu mereka itu.


Susahnya gini bre . . . Mungkin gw bisa pake Browser alternatif, tapi kenyataannya sekarang yang pake Browser PC gw nggak cuma gw, tapi juga keluarga gw. Permasalahannya mereka benar-benar gaptek banget soal internet sama program komputer (bahkan ibu gw sendiri, yang notabenenya kerja sering pakai Microsoft Office, ngga tau cara buka file word dari Microsoft Wordnya langsung), jadi kalo gw tunjukkan apa yang lu maksud itu . . .
Entar mereka malah mikirnya kelain-lain lagi (download sembarangan lah, buka situs 4no lah, bikin hp/PC cepat rusak lah; pokoknya panjang, lebar, dan melelahkan). Jadi ya sementara gw cuma beralih ke Chrome perkara itu doang, sama fitur flow buat kirim file tugas ke PC/HP.